Jumat, 27 Juli 2012

Saya Berbahasa Sunda


Begitu sangat penting fungsi bahasa dalam kehidupan sosial masyarakat. Dari jaman baheula (red: dulu/masa lampau),  yang sulit untuk diterjemahkan, Baheula yang seperti apa bahasa telah digunakan. saya yakin bahasa telah digunakan dalam waktu lama dan terus menerus, ini seperti pemikiran angan, karena saya bukan ahli sejarah yang bisa memecahkan ini, dan saya juga bukan ahli bahasa. pembahasan bahasa disini lebih ditujukan kepada hilangnya rasa ingin menggunakan bahasa ibu. Sebagian masyarakat mempunyai pemahaman salah menganai sumpah pemuda di poin ke tiga yang berbunyi: “KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA”. Pemahaman jika kita harus berbahasa Indonesia dan meninggalkan bahasa daerah adalah kesalahan besar, maksud dari “menjunjung bahasa persatuan” diatas merupakan, bagaimana cara kita berkomunikasi sebagai bangsa Indonesia, dan pemeliharaan bahasa daerah tentu harus tetap terjaga. 

Ajip Rosidi dalam bukunya “Mencari Sosok Manusia Sunda” mengatakan, bahasa sangatlah penting ketika dpergunakan untuk menarik “Umat” dalam kegiatan beribadah agama. Banyak Gereja di Jawa Barat yang menggunakan bahasa sunda dalam penyampaian khutbahnya, hal ini ditujukan agar masyarakat setempat akan merasa lebih nyaman dengan bahasanya sendiri. Dan juga penggunaan bahasa Sunda dalam Khutbah jumat di masjid. Hal ini ditekankan Ajip Rosidi, mulai banyaknya masjid yang sudah menggunakan bahasa indonesia dalam khutbah jumat, bahkan di kampung-kampung yang belum terlalu heterogen, bahasa sunda sudah tidak dipakai. Ini bukan masalah perbandingan agama atau rasisme, tetapi penggunaan bahasa ibu yang digunakan masyarakat setempat dalam penyampaian apapun bisa lebih diterima. Dan semoga masjid-masjid yang sebelumnya memakai bahasa Sunda kembali memakai bahasa Sunda dalam khutbahnya. Saya berikan contoh masyarakat suku India yang menetap di daerah Little India, Singapura, tetap menggunakan bahasa India dalam penggunaan khutbah jumatnya. Padahal seperti kita ketahui bahasa keseharian di singapura adalah Inggris, dan begitu sangat Heterogennya Negara tersebut. Hal ini membuktikan penggunaan bahasa asli suku mereka akan lebih bisa diterima dan dimengerti, sekalipun saya yakin mereka tidak bodoh dalam berbahasa inggris.

Bentuk penggunaan bahasa Sunda sudah tercampur dari pengaruh bahasa sangsakerta di era hindu-budha, lalu masuknya kebudayaan islam dengan bahasa arab-nya, kemudian masuklah kolonialisme yang secara tidak langsung juga mempengaruhi Bahasa sunda (Menurut Reiza D. Dienaputra, M.Hum. :2009). Hal inilah yang menjadikan percampuran bahasa di era globalisasi bukanlah hal yang luar biasa karena dari segi sejarah bahasa sunda sudah mengalami perubahan. Namun dalam prosesnya perlu filter untuk menjadikan nafas dalam bahasa sunda itu sendiri tetap ada. Sebagai contoh Doel Sumbang yang tidak menggunakan bahasa sunda yang baku dalam penyampaian karyanya, bisa dikatakan efektif dalam kembali mengajak masyarakat sunda perkotaan yang mulai jarang menggunakan bahasa Sunda (Ajip Rosidi). Juga Kelompok Musik “Karinding Attack” yang menggunakan bahasa Sunda yang tidak menggunakan undak-usuk basa, secara lebih ekstrim mencampurkan bahasa Sunda dalam karyanya dengan bahasa lain, dan sesekali diselingi bahasa sunda “Kasar”, hal ini dipercayai mampu mendongkrak kembali bahasa sunda yang mulai ditinggalkan, karena masyarakat perkotaan seperti Bandung lebih bisa menerimanya dengan cara seperti itu (Skripsi, Giar Gardan: 2012). Usaha pelestarian yang digencarkan oleh orang-orang yang peduli terhadap keberlangsungan bahasa Sunda harus diapresiasi dan terus dilakukan secara berkala dan terus menerus. Penyelenggaraan Rebo Nyunda yang di gagas pemerintahan kota Bandung semoga bisa dimanfaatkan dengan baik. Efeknya sudah mulai terasa ketika di jejaring sosial mulai banyak yang saling mengingatkan jika di hari rabu harus menggunakan bahasa sunda, dan juga media-media online lokal yang menggunakan bahasa sunda dalam memposting beritanya perlu diapresiasi.

Gunakanlah dan berbicalah dalam bahasa Sunda dengan orang yang mengerti bahasa sunda dan bisa menggunakan bahasa Sunda. kelak bahasa Sunda akan seperti pelepas dahaga ketika kita jauh dari ruang lingkup sunda. Hal ini disadari penulis ketika berada dalam ruang lingkup suku yang berbeda dalam waktu yang lama. Kebanggan dan kecintaan terhadap bahasa dan nilai kesundaan akan lebih muncul ketika tidak bersama orang-orang satu suku. Dan juga rasa bahagia ketika bertemu orang yang menggunakan bahasa Sunda ketika berada di daerah yang tidak menggunakan bahasa sunda, asa manggih dulur (red. Serasa bertemu sodara).

Optimalisasi Momen Budaya Kabupaten Kuningan



Gunung Ciremai

Ini merupakan unek-unek, ajakan, dan mungkin juga angan-angan solusi, yang ingin direalisasikan oleh penulis sebagai warga Kabupaten Kuningan. Untuk menjadikan Pariwisata dan momen-momen budaya di Kabupaten Kuningan bisa lebih di Optimalkan. Bukan berarti pemerintah saat ini diam dan tidak melakukan apa-apa, tetapi ada hal-hal yang menurut penulis masih bisa dioptimalkan agar pariwisata Kabupaten Kuningan tidak hanya ramai ketika Lebaran dan Seren Taun (seren taun dianggap momen budaya paling populer). Sebagai berikut:

1. Iklan Kurangnya iklan dan publikasi mengenai informasi tentang pariwisata kabupaten kuningan, ketika kita malah lebih banyak melihat banner-banner, atau big reklame bergambarkan pak bupati. Mungkin lebih baik jika itu diganti dengan iklan objek wisata yang ada dikuningan, setidaknya orang-orang bisa melihat potensi wisata apa saja yang ada dikuningan, atau mungkin pemasangan gambar-gambar momen-momen budaya yang ada di kabupaten kuningan. Akan menjadi lebih baik jika ditunjang dengan desain yang menarik dan tidak alay dan narsis.
2. Website, website kabupaten kuningan yang hanya mengadakan info sekedarnya. Padahal seperti yang kita tahu, di kuningan banyak objek-objek pariwisata dan momen-momen budaya yang tidak kalah dengan daerah lain. Bagaimana para wisatawan akan tertarik dengan keadaan pariwisata kita, dengan keadaan teknologi yang semakin berkembang, pemerintah kuningan malah seperti seakan-akan stuck tidak bergerak. Padahal itu sangat berpotensi untuk mendatangkan wisatawan lebih banyak, karena semua orang bisa mengaksesnya dengan mudah.
3. Nyaah, sangat disayangkan, suatu contoh ketika Reog Cengal punah karena tidak adanya penerus. Dibarengi dengan pendokumentasian yang sangat minim dan sulit dicari. itu menjadikan Reog Cengal hilang begitu saja tanpa ada hal lain yang bisa dikaji. Masih banyak lagi pristiwa-pristiwa budaya yang ada di kuningan yang nasibnya mungkin akan sama jika tidak dipelihara. Cingcowong Luragung, Pesta Dadung Subang, dan masih banyak yang lainya. Selama ini kuningan hanya dikenal dengan pristiwa budaya “seren taun”-nya padahal banyak pristiwa budaya lain yang bisa muncul kepermukaan jiga dikelola dan dipublikasikan dengan baik.
4. Orang Muda, dokumentasi dirasakan sangat penting, selain sebagai sarana regenerasi agar generasi sekarang dan seterusnya mengetahui. Dengan mengandalkan orang-orang “muda” dengan selera kekinian, ini bisa saja terwujud karena kemasan klasik dengan tameng untuk mempertahankan yang lama sama saja bunuh diri, karena orang-orang “muda” sekrang lebih ingin sesuatu hal yang bisa disebut “keren”, biarlah hal hal itu dijadikan jalan, agar mereka nantinya sadar, jika mempertahankan identitas nilai lokal budaya itu penting adanya.
5.Kerja sama, Ini bukan sikap apatis terhadap pemerintah, juga bukan dari pihak lawan politik pemerintahan. Hal ini akan lebih baik jika didukung oleh pihak pemerintah (tapi bukan berarti memasang foto bapak bupati atau staf pemerintahan), bukan untuk mencari keuntungan atau apapun. Hal ini didasari rasa prihatin, ketika potensi pariwisata di kabupaten kuningan yang masih bisa digali kurang publikasi dan pendokumentasian.
6.Yakin, keyakinan ini muncul ketika, semakin banyak orang kuningan yang bergelut di bidang jurnalis, broadcast, fotografi, videografi, dan lain lain. ini dirasakan sangat berperan karena hal-hal seperti itulah yang bisa mewujudkan ide ini, hal yang seakan “sulit”, karena lulusan-lulusan hebat, lebih senang memajukan daerah lain, daripada daerahnya sendiri. Hal ini mungkin karena kurangnya jalan dan informasi, semoga hal ini bisa menggugah para kreator untuk mewujudkan potensi wisata budaya yang ada di Kabupaten Kuningan.

*Penulis lahir dan menjalani aktifitas hingga lulus sekolah menengah atas di Kab. Kuningan, setelah itu menimba ilmu selama 4 tahun di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Hal inilah yang menjadikan penulis tersadar, begitu banyak orang kreatif yang berasal Kabupaten Kuningan. Tidak hanya yang belajar di Yogya, namun juga rekan-rekan yang menuntut ilmu di STSI Bandung, inilah yang menjadikan penulis mempunyai angan-angan agar ide di atas bisa direalisasikan. Semoga…!

Kamis, 26 Juli 2012

hi..!

Entah ini sudah keberapa kali saya membuat pekerjaan yang sama, yaitu membuat Blog. semoga saat ini serius. selamat datang di dunia Metafora, kelak Metafora akan menjadi Hegemoni. salam!